Posts

Freedom.
abstract,
cannot be seen with bare eyes,
but can only be felt with your heart,
which is called "peace".

I never realize that freedom is that precious until I lost it.
free to use my own thought to decide things,
free to pursue my own happines,
free to set my own goals,
free to achieve my dreams,

free to do anything that I want to.
yes, I lost those several things.

It feels like a living doll,
without a soul...

you can only do what you are directed to,
you can only do basic things as much as you want it,
eat,
drink,
sleep,
but not to think,
to argue,
or even to dream.
so empty..

what is worse?
I cannot complain to anyone,
but myself.
that is the worst.










Kita dan Semuaku

Percakapan kita itu menakjubkan.
Kalimat-kalimat bagus bertebaran.
Surat-surat manis berserakan.
Tanya-tanya mesra berhamburan. Penuh kata-kata.
Penuh warna.
Kita bercanda, bertukar pikiran,
berbagi cerita, berdebat dan bersitegang,
itu menakjubkan.

Kita itu bagai rasa. Ada hangat yang tak mampu dijelaskan api. Ada sejuk yang tak berasal dari angin. Ada arus yang tak sama dengan di sungai. Ada dunia yang bukan dunia ini. Kita itu indah yang campur aduk. Semerawut seperti ibukota. Aneh seperti angkasa. Entah mengapa. Entah bagaimana. Pinta dan asa yang mengisi. Seni dan doa yang menguatkan.
Kita itu unik seperti karya yang rumit, seperti bahagia yang sederhana. Bertujuan, berketidak-pastian. Berketanyaan, berkerelaan, bergemerlapan, beriman, seiman, Kita.
Sesekali aku bingung memandangi kita. Dua kepala yang sama keras. Dua hati yang sama keras. Dua masalah yang sama berat.
Satu cinta. Satu dunia. Satu cerita. Banyak nama. Banyak pribadi. Banyak pertanyaan.
Kita adalah aku dan kamu. Sia…

first stage

Image
alhamdulillah.. wa syukurillah. aku haturkan puja dan puji bagi Allah SWT yang telah meridhai dan memuluskan jalan kami, pun untuk semua doa yang serta-merta datang dari kalian semua, kawan.


hari itu..  bukan hari libur.. belum saatnya. tapi, dengan selembar kertas berisikan ijin dari atasan didalamnya, kami pun bisa menikmati liburan lebih awal dari yang lainnya. ya, hari itu masih dengan serba-serbi urusan supplier dengan telepon yang menempel di telinga, aku persiapkan diri. mulai dari rambut hingga ujung kaki, semuanya aku siapkan dengan baik.
bukan.. bukan acara besar. namun, hari itu akan menjadi penting bagiku, juga baginya.
iya, di hari itu.. kami akan menapaki pijakan setingkat lebih atas dari pijakan kami sebelumnya. iya, di hari itu.. kesiapan dan kesanggupan akan kami ungkap secara terbuka, komitmen sudah bukan milik kami berdua lagi. iya, di hari itu.. seluruh keluarga besar akan tahu.. tujuan kami. mimpi kami.
24 Desember 2013 bukan saja menjadi hari kelahiranmu, sayang. a…

setapak

kami tertawa bersama.
kami mengeluh bersama.
kami bermimpi bersama.

iya, itu dulu.
ketika kain abu-abu masih menyelimuti setengah badanku, dan kami masih bangga akan logo yang terpasang di lengan kanan kami.
iya, di sekolah itu kami dipertemukan,
dengan mimpi dan cita yang kami teriakkan bersama.

seiring berjalannya detik menuju menit lalu jam, hari dan tahun; semua kian berubah.
bukan hanya raga dan penampilan masing-masing dari kami yang berubah, bukan. bukan hanya itu.
jalan hidup kami pun ikut berubah sejalan dengan pilihan-pilihan yang ada di depan mata.
begitu banyak cerita yang kami lewati, dan bahkan  ada beberapa diantaranya yang ingin aku simpan dan enggan untuk dilenyapkan dari ingatan.
begitu berartinya untukku.

lalu cinta datang,
dengan pilihan.
sesiapapun tidak ada yang dapat menduga dan menerka kapan cinta itu muncul.
mungkin hal tersebut dapat ditolak atau bahkan dilebur,
namun jika Tuhan telah menuntunmu menuju skenarionya.
siapa dapat mengelak?
cinta dan cita itu sek…

routine kills.

hai!
sudah lama sekali rasanya aku meninggalkan ruangan ini.
iya, bahkan untuk beberapa bulan terakhir tidak ada satu katapun yang aku temukan disini.
sama sekali.
entah apa yang membuatku sibuk.
kerjaan?
mungkin lebih tepatnya dibuat sibuk oleh rutinitasku.

iya, sudah terekam dengan sangat jelas oleh otakku,
bahwa pukul 05.00 pagi adalah waktuku untuk bangun tidur;
10 menit, waktuku untuk mengambil wudlu dan solat subuh;
15 menit, waktuku untuk menanak nasi dan menggoreng makanan sekedarnya;
15 menit, waktuku untuk mandi.
dan ya, pukul 06.00 tepat aku harus sudah bersiap di depan cermin.
15 menit, waktuku untuk memoleskan beberapa krim wajah dan berkreasi di sekitaran wajahku;
10 menit, waktuku untuk mengeringkan rambut;
5 menit, waktuku untuk memasangkan kaos kaki dan menjemur handukku.
ya, pukul 06.30 adalah waktuku untuk menunggu jemputan pribadiku.

pukul 07.00 tepat aku tiba di kantor.
disambut oleh senyum bapak-bapak security,
sapaan beberapa rekan kerja,
juga seringai layar m…

syarat sah?

hai?
sudahkah kamu menjadi dewasa?
orang dewasa sesungguhnya mungkin gak pernah scara gamblang mengakui dirinya dewasa.
iya,
kalo kamu sudah merasa dan mengaku dirimu dewasa,
bersabarlah.. kamu masih jauh dari tahapan itu.

iya,
banyak orang berkhotbah mengenai kedewasaan.
bukanlah suatu jaminan yang mutlak atas umur untuk menjadi dewasa.
di luaraan sana mungkin banyak sekali yang mengaku dirinya dewasa tapi nyatanyaa, sangat jauh dari  ekspetasi dirinya akan kedewasaan.

iya,
dewasa bukanlah perkara umur.
bukan, bukan itu.
dewasa adalah,
caramu menyikapi segala hal,
tidak menilainya semata 'benar' atau salah';
caramu membuat pola pikiranmu,
tidak melulu menuntutnya menjadi bulat atau kotak, tapi segala macam pola;
caramu menghargai keberadaan seseorang,
tidak pernah lupa bahwa 'atap' ada karena adanya 'pondasi';
caramu berdemokrasi dengan pendapat pribadi dan orang lain,
dengan menghargai perbedaan tanpa meleburnya demi menjadi padu;
caramu untuk memimpin,
dengan men…

hai.

hai.  ada orang disana?
banyak ya pastinya.
entah ada yang menungguku ataupun tidak untuk post terbaruku,
maaf ya aku baru muncul sekarang.
iya, pikirku dulu aku bakalan sering-sering muncul di sini, tapi nyatanya jauh dari harapan.
waktuku sekarang ternyata banyak tersita.
iya, sampai aku sadar ternyata umurku sudah tak seimut mukaku. aha.

hai lagi.
untuk saat ini aku sudah tak terpojok di ujung Jawa Barat sana.
aku yang sekarang sudah ada di tengah peradaban.
terhimpit diantara dua kota besar, ya, Bandung dan Jakarta.
aku berada diantaranya, untuk tepatnya coba tebak saja.

hm..
lebih banyak desah nafas yang aku keluarkan di sini ternyata,
mengingat lalu lintas yang nyata serupa dengan kota kelahiranku, Kopo;
hiruk pikuk, antrian panjang untuk roda dua, empat, dan teman sejawatnya;
waktu yang aku habiskan untuk bertemu rekan kerja, supplier, layar monitor;
dan minimnya waktu yang aku punya untuk sekedar memikirkan masa depanku.
beginilah rutinitasku saat ini.

hm..
sekarang nyatanya s…