caraku untuk kenangan

people change,
time changes people.
only memories will stay,
though not that long.

akan tiba masa itu,
aku tahu,
ketika mata tak jelas lagi menangkap fokus pandangan,
ketika telinga hanya bisa mendengar sayup kejauhan,
ketika diri tak mampu mengingat,
memori tergerus,
bukan oleh sesiapapun.
ini perkara waktu.

aku tahu,
aku sangat tahu itu.
sesekali atau malah berkali-kali aku dibuat takut karnanya.
lebih tepatnya cemas.
iya,
mungkin bukan cuma aku, kamu? kamu?
ya, kamu tidak takut?
cemas barangkali?

sebenarnya yang paling mengerikan buatku adalah,
membayangkan aku tanpa sedikitpun ingatan yang tersisa,
remehan, bahkan sepotek kenangan yang lenyap tanpa jejak.
lebih mengerikan dari sekedar kehilangan stock keju dan roti gandum.
lebih mengerikan  dari sekedar kehabisan koleksi tazmania.
lebih mengerikan dari sekedar warna pink, atau oranye.
lebih mengerikan dari sekedar monster berdarah dingin, seperti ayam jago dan sebangsanya.
lebih mengerikan dari sekedar ocehan bos di kantor.
lebih mengerikan dari seretnya isi dompet di akhir bulan.
se-mengerikan itu lah ingatan untuk kenangan.

jepretan kamera,
caranya
menjebak kenangan dalam jelmanya menjadi potongan gambar.

gonjrengan gitar,
caranya
mengalunkan kenangan dalam indahnya nada dan irama.

lengkingan suara,
caranya
melantunkan kenangan dengan sedemikian merdu.

pejaman mata,
yang mengendapkan kenangan.
tutur sapa,
yang menyegarkan kenangan,
genggaman,
yang menghangatkan kenangan
cercaan,
kehampaan,
ada dalam setiap kata yang aku tata di sini.

kesemuanya ada,
dan akan tetap ada.
beginilah caraku mengunci kenangan.
dalam tulisan.

nada irama

bicara persoalan nada dan irama,
mereka sudah begitu familiar untukku, terutama telingaku.
iya, sedari kecil, ayahku sudah begitu kerasnya berusaha memperkenalkan aku untuk sedemikian dekat dan akrab dengan mereka.
usaha demi usaha dikerahkannya demi aku..
dan ya ternyata aku dengan sukarela menerima keberadaan mereka dalam hidupku.
cukuplah sampai saat itu.
lanjutnya, usaha ayah aku ambil alih,
yaitu dengan inisiatif untuk mengikuti les vokal.
untuk tahap pertama, les vokal berjalan dengan cukup baik.
leganya diri ini mampu menyerap materi seperti teknik pengambilan nafas untuk menghasilkan suara yang variatif. begitupun dengan tahap-tahap selanjutnya.
"aku cinta dengan mereka,"
begitulah kiranya kalimat yang bisa aku cetuskan dalam pikiran pada saat itu.

waktu demi waktu aku jalani bersama mereka.
bukti nyatanya adalah keikutsertaanku dengan grup paduan suara yang ada di sekolahku, dan juga kompetisi.
ya meski begitu, ayah lah yang bersikeras mengikutsertakan aku di setiap kompetisi..
pikirku dulu, kecintaanku untuk nada dan irama cukup untuk aku seorang, tanpa harus membuatnya menjadi sebuah kompetisi.
tapi yah tapi, kecintaanku tersebut telah membangkitkan obsesi ayahku.
hm eheh, yaa.. seperti menjadikan anaknya menjadi seorang penyanyi.
haha.. lucunya saat itu,
semakin keras usaha ayah untuk mewujudkan obsesinya, semakin kuat tolakanku dan menjauhlah aku dari mereka..
iya, begitulah aku.
sedari dulu, aku sudah benci dengan paksaan..
kesukarelaanku telah menghasilkan sesuatu di luar prediksiku.
obsesi?
kompetisi?

tahun berjalan..
aku semakin enggan menunjukkan kebisaanku depan orang banyak..
menunduklah aku pada ketidakpercayaan-diri.
aku jalani hidupku tanpa kompetisi.
tanpa kehilangan kecintaanku pada nada dan irama,
aku tetap menjaganya,
yah, tanpa harus aku bagi untuk khalayak.

kini,
iya, sampai saat ini.
dan kali ini, aku mendapati mereka kembali.
di sini,
ada garis lengkung yang pada akhirnya mengembang.
di sini,
parahnya aku seringkali dibuat galau.
di sini,
emosi meluap karnanya.
sedih. senang. tanpa alasan.
ah sudah tau alasannya mereka.
ya, begitu magisnya nada dan irama,

mereka begitu dekat, ah, terlalu dekat.

tanpa tolakan yang sebelumnya bisa aku ciptakan,
menyusup masuk ke sini tanpa adanya permisi.
begitu jahat? terlalu baik agaknya.
puji untuk nada dan irama ini tak terbantahkan.
syukur karnanya.


kali ini,
nada dan irama bukan hanya familiar dan akrab untuk telingaku.
tapi juga hatiku.
demikian jujurku.



perahu kertas

"tertampar" ya begitulah rasanya.

sebuah layar putih dan lebar terpasang di hadapan.
hari itu, barisan bangku-bangku tak begitu banyak ditempati.
hanya beberapa gelintir anak muda yang ada disitu.
ya, aku ada diantaranya,
duduk bersila di atas bangku penonton dengan posisi tangan yang penuh dengan makanan.

layar di depanku sudah tidak putih lagi,
ada sesuatu disana..
ada orang yang sedang membuka kata untuk menjadi cerita,
dan aku, berada di tempatku dengan mata yang tertuju pada layar yang sudah tak putih itu, sembari sesekali memasukan kentang goreng dan burger ke dalam mulutku dengan membabi-buta.
katanya orang sih layar itu akan menampilkan sebuah cerita, yang juga katanya diambil dari sebuah novel hasil karya anak bangsa.
tapi,
bukan.. bukan itu yang nyatanya aku lihat.
sesuatu di sana, seseorang di sana, tampak sudah tak asing lagi.
dengan seksama aku mengamati layar dan orang yang ada disana.
bukan, itu bukan cerita, orang itu bukan dia,
tapi aku?
entah bagaimana caranya aku berada di sana.
itu aku?
kata-kata yang berkelebatan.. kegundahan yang terselip.. mimpi yang nyata ada di sana..
semuanya memang begitu.
iya, begitu.
seperti itu.

ada rasa yang tidak bisa aku ungkap dan gambarkan di "sini".
dan di sana?
semuanya begitu nyata menamparku.
pipiku tiba-tiba merasa hangat, rupanya ada yang baru saja mengalir di sana.
dengan perlahan aku benamkan badanku, menyilangkan tangan demi mendekap kakiku..

aku sudah tidak ada di sana, ternyata.
ya di tempatku.
aku lenyap.
layarpun lenyap.

ada yang salah dengan jawaban yang aku lontarkan?
jika iya, jawab saja dengan lantang.

ketika kamu mengharapkan sebuah jawaban yang kamu kehendaki,
tolong jangan suguhkan pertanyaan itu untukku.

karna jawaban yang aku lontarkan akan tetap salah untukmu,
tolong jangan ulangi pertanyaan itu untukku.

bisa?

semua karna lapar.

beginilah jahatnya lapar yang datang di tengah malam.. iya. dia buatku terjaga semalaman, ga karuan.
yang lebih jahatnya lagi, aku ga cuman bisa diam.
sekelebat tanya selalu saja mampir di kepalaku.
barangkali hanya untuk memastikan bahwa si sang empunya pikiran masih dalam keadaan waras wal'afiat.
yang artinya, aku masih dibuat pusing oleh pertanyaan yang kadang tak menemui jawaban.
yah.. aku selalu yakin tentang hal itu.
bahwasanya, orang waras selalu menemui kepusingan tentang itu, eh atau sebaliknya? haha..

hmm..
pernah cukup yakin bahwa setiap pertanyaan pasti mempunyai jawaban?
aku pernah.
ketika seseorang dengan bersusah payah membuktikan bahwa.. yaah! tiap pertanyaan itu selalu punya jawaban looohh..
dengan penuh semangat membara dia mengeluarkan bermacam contoh pertanyaan yang pada akhirnya menemui jawabannya.
tapi bagaimana dengan pertanyaan yang satu ini?
pertanyaan yang kadang berkelebat di otakku.. yang kadang kala muncul, timbul tenggelam kiranya.
pertanyaan ini memang cuman aku saja yang tau, dan barangkali cuman aku (lagi) yang tau jawabannya.
tapi justru itu, aku sendiri pun ga pernah tau sampai kapan pertanyaan ini akan menemui jawabannya.
atau malah gakan pernah ketemu jawabannya sampai kapanpun?

katanya orang sih, ini yang dibilang masa transisi.
ketika kamu dihadapkan dengan berbagai pertanyaan yang (nampaknya) ga pernah menemui jawabannya.
yah ketika kamu merasa kalah karena sekeras apapun kamu berpikir, ulang dan mundur serta runut, pada akhirnya kamu tetap tak menemui jawaban.

yah..
untuk pertanyaan ini, barangkali cuman aku yang tau.
untuk jawaban, mungkin kamu tau?
tak juga ya?

ah, beginilah jahatnya lapar.

sempat, aku merasa ada yang hilang.
tiada yang bisa menggenapkan bahagiaku selain mereka.
tanpa adanya cerita yang bisa aku bagi (lagi),
tanpa adanya sedih yang aku keluhkan (lagi),
tanpa adanya ceria yang aku tularkan (lagi),
yah, kosong.

Dulu, ada sebuah ruangan yang dengan sengaja aku sekat dan sisihkan untuk mereka.
yang akhirnya, sekarang tak terpakai.
mereka bukan dengan sengaja meninggalkan ruangan itu.
mereka perlahan menghilang, yang mungkin dengan tanpa sengaja meninggalkan aku seorang.

bahagiaku ga akan pernah menjadi genap, pikirku dulu.

syukur.
ya mungkin hal tersebutlah yang sanggup menggenapkan bahagiaku sekarang.

untuk sesuatu yang menenangkan dan menyenangkan.
yah, untuk rasa disayang tanpa pamrih.