F for Friend. But it is more than just F.

When Plutarch said,

“I don’t need a friend who changes when I change, and who nods when I nod; My shadow does that much better.”
Oho! saya sangat setuju dengan apa yang yang dikatakan oleh si Plutarch (kenapa pake si? biar terlihat lebih akrab). Yes, kakak yes. Sahabat, bukan 'bayangan diri'.
(terlihat tidak konsisten bukan? tadi 'si' sekarang 'kakak')


Yaaaahhh..
SAHABAT,
bukan seperti Ibu Peri yang hanya datang ketika si cinderella kesusahan, terdesak, butuh pertolongan.
bukan seperti dokter yang hanya orang cari ketika sakit dirasa.
bukan seperti dukun yang akan membantu kita mengucap sumpah serapah.
bukan seperti payung yang hanya digunakan saat hujan turun (dan saat kemarau datang dia terlantar tak terpakai)
bukan seperti em.. *mulai tersendat*
bukan seperti plester yang kita pakai untuk menutupi (menyembunyikan) luka atau borok yang ada.

Yah.
sahabat ituu..
Sabahat itu adalah..

Ruth Pricilla D P
Kakak iyut, panggilan kesayangan saya buat dia.
Pertama kali bertemu di sebuah sekolah menengah, tepatnya di kelas x-c. Yah, sejak saat itulah pertemanan kami dimulai, lalu menjadi semakin akrab, (akrab yah bukan intim. ihiy serem). Kisah-kasih di sekolah, permasalahan rumah tangga, permasalahan adik-kakak, (semua) saya muntahkan sama dia. Walaupun kadang diselingi rasa kesal karena ke-telat-an dia menangkap suatu maksud yang tersirat tapi.. dia pendengar yang sangat baik. Pernah suatu kali, terjadi salah-paham yg menyebabkan kami saling bungkam. oh tidak enak! (hanya bertahan satu hari saja). Eh omong-omong, untuk ulang tahun yg ke 22 tahun ini (saya berdoa semoga dia bisa ketemu dengan (mas-mas Jawa) yang dia idamkan).
I love you sister..

Zahra El Maulida

Jadun, yah Jaduunn.. adik kecil yang doyan ngomong (yah secara mantan penyiar radio Ardan dan 99ers), aktif kesana-kemari, ajaib, super kreatif, tapi sayang suka pundungan. hehe. (akui saja adik). Kekonyolan dan ketololan yang dia tunjukin kalo ketiban si Cupid, (selalu gak bisa mengontrol sikap). Jadi yah, akan sangat jelas terlihat kalo dia suka atau tidak sama orang. Staf Manager MCD dan Singapura, sekarang menjadi fokusnya. Yah inilah ini, adik jadun. Adik yg selalu menjadi adik saya yang paling super. I love yoouuuu..

Dahlia Sukria
Metto, tadinya itu panggilan kaka iyut buat dia. Tapi yah, karena tertular virus 'metto' yaudah saya ikut panggil dia itu. Metto, teman mempercantik diri (creambath. luluran, belanja), dan juga teman ngabisin duit (siap-siap tebelin dompet dulu aja kalo mau pergi sama dia). Masalah perpacaran maupun masalah tidak penting sama sekali saya bagi sama dia. Yah, emak dahlia yang hampir mirip sifatnya sama emak siti ini emang cerewet kadang-kadang (apalagi kalo saya lagi sakit). emaak I love you.



Yah.. Sahabat, seperti mereka.
Kata-kata tidak penting, cerita tidak penting.
Sedih, senang, salah-paham.
kantong kosong, dompet kosong.
tertawa, menangis.
kekonyolan, ketololan, kekasaran dalam rumah tangga.
Yah. semuuaaaaa.. semuaaaaaa.
Komplit macam nasi goreng spesial.
macem nano-nano : manis asam asin ramai rasanya.
macem sahabat, lebih dari teman, yah lebih dari itu.
Ingat ! kami akrab bukan intim yes.

I love you all.
I thank God for what I have now.
I love you. I love you.

60 days.


"yaah.. dua bulan..bentar lah yah.. nih masih bisa kehitung sama jari (sembari menghitung setiap buku jari kaki dan tangannya) 60 kan? "

begitulah kira-kira sepenggal kata yg terujar semalam.
Saya pun mengangguk *pertanda setuju* dengan kata-katanya.
Yah, dua bulan.
masih terhitung jari.
dua bulan.
cuman 60 hari toh?
kiranya masih tersisa 275 hari yang lain yang bisa kami lewati.
Yah. 60 hari : 1.440 jam : 86.400 menit : 5.184.000 detik.

ah sebentar itu.
60 hari itu..
sama dengan waktu yang dibutuhkan saat kita menjentikan jari tangan.
sama dengan waktu yang dibutuhkan saat kita mengedipkan mata.
sama dengan waktu yang dibutuhkan saat kita menghela nafas.
sama dengan waktu yang dibutuhkan saat kita membuang angin.
dan sama dengan waktu yang dibutuhkan saat kita menggosok gigi? (lah? ko nyambung kesitu?????? "terserah saya lah! saya ini yang nulis.")

Jadi, bagaimana menurut kalian?
60 hari itu?

Yah.. sebentar pastinya.
Surely we can make it.


Yesterday Fireworks.


it does.*big grin*

Semacam ada ratusan kembang api yang saling bersahutan dalam kepala saya.
Lebay?
ah engga. cuman berlebih saja mungkin. haha.
Tapi, yaaahh.. emang begitu yang saya rasain.
Jadi, salah ?
Salah kalo saya merasa seperti itu?
Siapa bilang?
Kamu? atau kamu? atau kamu?
Siapa sih kamu?

Someone said,
"be true to yourself no matter what. It may not be right for someone else, but it is right for you."
nah tuh !
Yang penting kan jujur sama diri sendiri.
Jadi, ya inilah ini.
apalah apapun itu yang saya rasain.
Yang penting saya sudah bersikap apa adanya..
(apa adanya rasa yang ada, #halah)
Yah yah yah..

Tadinyaaa, yah tadinya.
Saya pikir kembang api itu cuman sedikit yang bakal menyala.
Tapi nyatanyaaa..
kembang api itu beranak-pinak.
semacam amoeba yang ber-reproduksi (membelah diri) : makin lama makin banyak.
semacam monster Hydra yang ketika kita potong kepalanya, malah akan semakin tumbuh, menjadi semakin banyak.
semacam.. emm semacam apa lagi ya?
semacam kutu?
engga engga.
yah.. semacam manusia lah yang pasti..
yang.. emh, yang... taulaah!
macam anak muda jaman sekarang.

Yah, begitulah kira-kira cerita permasalahan kembang api di hari kemarin.
semoga.. semoga, tetap beranak pinak.
hihiihihi.

A Virtual Landing on Planet X


A few minutes past midnightIn a moment when I felt hollow
My fingers typed voluntary
Could it have been my unconscious
Sending the motoric pulse?
A hit on the return key
And the global search began
Found your name
A strange sense of time and space
Flew me

To a memory
I thought I had buried in the abyss
But it all came so vivid
Then the heart throbbed
And your thumbnails appeared
Words in your blog
Scrolled down
You on another planet
I'm an alien
Lost again in time.. and space
Signing out.


-anonim-

Logika (dan Perasaan)

Logika menuntut manusia berpikir logis tentang masa depan. Emosi psikologis yg timbul dari perasaan yg membuat batasan-batasan tertentu berdasarkan persepsi. Rasa takut, perasaan tidak mampu, dan sebaliknya dan sebagainya. Dalam dunia logika, abu-abu (ketidakpastian) menempati sedikit sekali ruang untuk bertahan. Dalam statistika, gray area dijelaskan sebagai "pencilan" atau kita mengenalnya sebagai standar error alfa 0.5

Perasaan sangat mengenal logika sebagai opposite-nya, maka ketika kamu bertanya apakah dia mengenal logika. Ia akan menjawab: "Ya, saya sangat mengenalnya. Ia adalah mahluk paling tidak berperasaan di muka bumi ini. Pertimbangannya melulu soal matematika dan epistemis semata! Saya tidak menyukainya.."

Ketika kamu mempertanyakan "kenapa si logika menjawab dengan singkat sedangkan si perasaan menjawab dengan panjang lebar?"

Saya pikir logika menjawab lebih panjang ketimbang perasaan. Perasaan tidak berbicara apapun kecuali dengan diam. Dengan logika kita berpikir secara epistemis dan berdasar kepada premis-premis kuat yg membentuk hipotesis. Ia menuntun kita pada perincian-perincian baku soal bagaimana agar segalanya berjalan sesuai dengan keinginan kita. Dan ini samasekali tidak membuatmu diam. Sedangkan perasaan melihat dunia yg tidak dapat terjangkau logika.
Orang menyebutnya "kecerdasan intuisi".
Kita melihat masa depan dengan berbagai asumsi-asumsi dengan keberpihakan terhadap logika ataupun sebaliknya. Kita memaafkannya, sebagaimana kita memaafkan ketidakpastian dunia akan hari esok.
"Apakah esok matahari akan terbit seperti hari sebelumnya?"
-Adam Smith-

"Dunia tampak tidak berujung, namun tetap hanya tuhan yang tau ujungnya.."
Hey! Semesta adalah kepalamu. Engkaulah yg menentukan batas-batasnya..
Semesta adalah tempat bagi keduanya: logika dan perasaan bersatu untuk memahaminya dengan segala keterbatasan mereka.

"Logika akan memilih salah satu yg lebih penting, namun perasaan sangat mempertimbangkan kepentingan keduanya"
Logika memiliki kode instruksi: mempertahankan hidup, dalam kasus yg lebih luas, logika memperbesar cakupannya menjadi ekspansi. Penting baginya adalah benar menurut pandangannya. Sedangkan perasaan bekerja secara terselubung. Gagasannya mengenai hidup bergantung pada banyak faktor penunjang seperti misalnya kondisi ekonomi, pendidikan dan lingkungan.

"Dan saya memilih untuk membuatnya sebagai masalah, karna hidup itu masalah..Dan saya akan mencoba membuat warna ABU dari warna HITAM dan PUTIH.."
Diri ini, adalah tempat segala hitam dan putih bersatu membentuk warna-warna. Tidak hitam, tidak putih, tidak abu-abu. Tuhan tidak menciptakan hitam dan putih semata-mata hanya agar ada abu-abu. Warna hidup adalah hidup itu sendiri.

Ketidakberpihakan diri antara logika dan perasaan membuat hidup melaju seperti apa adanya. Kecerdasan SPIRITUAL, dengan caranya yg alami dan berproses melalui transedensi dan penghayatan mendalam tentang keTuhanan, seharusnya dapat menengahi antara logika dan perasaan..Sehingga hidup bagi manusia dapat mengerucut menjadi soal-soal dimana kita:
Mengetahui di ke-tahuan kita, dan
Mengetahui di-ketidaktahuan kita.

Kemudian menyikapi hidup dengan kepala tegak dan berbesar hati.

Kita, dengan sendirinya adalah causa dari sederet adegan yang pernah terjadi sebelumnya.. Proses konkrit semesta yang dengan campur tanganNya, kita menjadi ADA.

[pergumulan yang lalu dikomentari oleh aa prima]

perbincangan sadistik di pagi buta.

Larut malam,
tumbang. Kata-kata, tertahan.
Mata, perlahan tenggelam.

Pagi buta.
Pukul enam.
Kata-kata, mulai saya tata.
Dengan mata yang sekadarnya.

"Apa sih bijak itu, a?"
(Agaknya pagi-pagi bahas masalah macam begitu cukup bikin orang pengen ngais-ngais tanah)
Tapi gak tuh buat aa prima, yang dengan sabar menampung semua kekonyolan saya di pagi buta. haha (maaf ya a)

"hm.. Bijak ya?" tanya aa.
(sepertinya mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia sedang disodori pertanyaan konyol di pagi buta)
'Manusia dewasa kadang berlaku seperti anak kecil. Berlari-lari dengan persepsinya sendiri. Mereka tidak cukup pengetahuan, atau berbesar hati menerima kenyataan bahwa kebijaksanaan level tertinggi justru dengan memandang segala sesuatunya sebagai sudah semestinya. Lalu membiarkan segala sesuatunya itu menurut persepsi-Nya'
Kita punya pertimbangan-pertimbangan hasil olah otak dan nurani. Hasilnya percabangan di tingkat persepsi. Karena segala awalan dari pemikiran orang tidak sama maka BENAR dan SALAH tidak semudah membedakan warna PUTIH dan HITAM. Selalu di tingkatan yg lebih tinggi, manusia menyerahkan penilaian itu pada sang pencipta (dari sisi spiritual)
Ya.. Dalam evolusi manusia, etis (yg berasal dari persetujuan org banyak) manaiki tingkatan yg lebih tinggi bernama hukum. Hal-hal demikian mempertimbangkan benar dan salah melalui penafsiran dan kepentingan orang banyak. Tapi moral berada di tingkatan dimana hukum dan etis tidak lagi bisa menjangkaunya secara formal..
Itulah hubungan manusia dengan khaliknya yg tidak bisa dicampuri urusan2 manusia..
(yah.. yaaahh.. yaahh..huaammmhh.. begitulah jawaban aa mengenai pertanyaan saya yang cuma secuil, tapi penjelasannya mbok' ya kurang panjang.. blah !)

Dan, yaah. oke lah !
Kiranya saya punya kesimpulan sendiri.
Bijak, ataupun adil.
ketika dasar pertimbangannya adalah persepsi pribadi. Hal itu tidak bisa berlaku, atau mungkin kurang berterima.
Karena, sekali lagi, bijak atau adil, benar atau salah, adalah bukan tataran kita untuk memberi penilaian.
Yah, sekali lagi, penilaian pribadi » persepsi pribadi .
Yang nantinya mengutamakan kepentingan pribadi.
Sadar ataupun tidak, kamu memang akan melakukan hal itu.

Jadi jadi jadi.. jangan menganggap bahwa diri kamu benar dengan persepsi yang kamu anggap benar. Pun jangan menganggap diri kamu salah dengan persepsi yang kamu anggap benar.
yasudahlah yaahh..

huaaaahhmmm... ngantuk juga ya bahas masalah beginian pagi-pagi.
yuk mari kita lanjut (tidur) lagi !